Tampilkan postingan dengan label Bahasa Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Jepang. Tampilkan semua postingan

Jak-Japan Matsuri, Pameran Budaya Jepang di Jakarta

Peserta mencoba Oshibana di Jak-Japan Matsuri
JAKPUS – Untuk mengenal budaya Jepang, tidak perlu jauh-jauh pergi ke Negeri Sakura tersebut. Sebab, beberapa kebudayaan dari Negeri Matahari Terbit itu sudah didatangkan di Jakarta. Tepatnya, di Plaza Senayan dalam acara Jak-Japan Matsuri 2014. Dalam event yang berlangsung 14–21 September tersebut, pengunjung bisa belajar banyak hal. Salah satunya, Oshibana. Yakni, merangkai bunga-bungaan dan dedaunan yang sudah dikeringkan.

Seorang pengajar Oshibana Mutia H. Prasodjo menyatakan, sebenarnya Indonesia mempunyai budaya yang nyaris sama. Bahkan, Indonesia mengenal proses herbarium, yakni pengeringan bunga sehingga berwarna cokelat. Bedanya, Oshibana menggunakan daun dan bunga kering yang warnanya tetap terjaga. "Kami mengambil teknik pengeringan dari Jepang untuk mengeksplorasi tumbuhan di Indonesia," terangnya.

Selain untuk mempercantik kartu ucapan, Mutia mengkreasikan bunga kering itu pada media yang fungsional. Misalnya, pada tempat tisu, mug, bahkan lukisan. Metta Meditaria menyatakan tertarik dengan workshop Oshibana karena jarang menemukan pembelajaran seni asal jepang itu. "Kecuali kalau memang sengaja mengikuti kursus Oshibana," katanya.

Tidak hanya belajar membuat Oshibana, pengunjung juga bisa mengikuti pelatihan bahasa Jepang dasar. Pengunjung diajar oleh sensei dari Japan Foundation untuk melakukan percakapan yang sering ditemukan dalam sehari-hari. Misalnya, pengucapan salam atau cara berterima kasih.

Pengunjung juga bisa ikut memberikan donasi untuk membantu anak autis. Perajin seni kaca Noquchi Mieko memamerkan beberapa karyanya di sana. Untuk hasil penjualan, 20 persen disumbangkan untuk anak autis dari Yayasan Pengembang Anak Istimewa (YPAI) Indriya.

Selain pameran dan workshop di Plaza Senayan, Jak-Japan Matsuri 2014 akan menyelenggarakan pementasan teater di Japan Foundation hingga acara penutupan yang dilaksanakan di Parkir Timur Senayan, Gelora Bung Karno. (tyh/c23/any/jawapos)

Sekolah yang tak punya lagu itu aneh!

Sekolah yang tak punya lagu itu aneh!
School song atau disini disebut dengan 'Kouka ( 校歌)', adalah lagu almamater yang dimiliki masing masing sekolah. Jadi, 'masing-masing' sekolah dari semua level mempunyai school song masing2.

Ketika di satu kesempatan berlatih percakapan bahasa Jepang, kami diminta untuk membuat kalimat "Di SD dulu pak/bu guru menyuruh kami menyanyikan lagu almamater". Saya bertanya, "apa yang dimaksud dengan lagu almamater?" Karena, sepanjang sekolah dulu, saya tidak pernah tahu yang namanya lagu almamater sekolah saya, apalagi diminta untuk menyanyi. 


Selanjutnya saya balik di tanya, "tidak adakah lagu almamater di sekolahmu dulu?", yang aku jawab dengan, "tidak ada". 
Setahuku, di sekolah2 lain di negaraku juga tidak ada. Di tingkat Universitas mungkin ada (lupa2 ingat, hiks), tapi di tingkat bawahnya sepertinya tidak ada.

Seisi kelas pun terkejut, karena menurut mereka aneh. Di masing2 negara lainnya, mereka punya school song untuk sekolahnya. Lagu itu akan berisi lirik2 pemompa semangat, motivasi memiliki visi masa depan dan kebanggaan pribadi dan sekolah mereka..katanya.

Kening sedikit mengkerut penuh heran. Ini saya yang kurang pengetahuan ataukah memang benar kita tidak punya school song di sekolah masing2 yang akan selalu di rapal di kesempatan2 tertentu?



Kurnia Ati'ullah

Cara Mengajarkan Bahasa Jepang di Kelas Multietnis

Cara Mengajarkan Bahasa Jepang di Kelas Multietnis
Asal daerah ternyata sangat memengaruhi kemampuan siswa dalam mema­hami bahasa asing. Pangkal permasalahannya terletak pada kebiasaan siswa menggunakan bahasa daerah yang membuat mereka kurang menguasai bahasa Indonesia. Hal ini terjadi khususnya pada siswa yang berasal dari daerah di luar pulau Jawa. Dapat dibayangkan kesulitan yang dihadapi tentor ketika mengajarkan bahasa Jepang dengan pengantar bahasa Indonesia.

Sadar jika hal ini akan mempersulit proses belajar mengajar, tim pengajar segera berembuk untuk menyusun strategi baru. Akhirnya tim pengajar memutuskan untuk hanya menggunakan bahasa Jepang untuk menyampaikan materi ajar sehingga cara berpikir pun secara otomatis akan langsung tersampaikan.

Alasannya, motivasi para siswa untuk belajar cukup tinggi. Hal ini tidak mengherankan mengingat mereka para siswa program EPA adalah mereka yang berhasil lolos rangkaian test menyisihkan ratusan pelamar lain. Di Indonesia mereka belajar selama 6 bulan dan di Jepang mereka akan kembali belajar selama 6 bulan sebelum benar-benar turun ke lapangan untuk bekerja sebagai perawat atau pun careworker.

Di Jepang mereka juga harus ikut ujian negara Bahasa Jepang di tahun pertama, ke-dua dan tahun ke-tiga. Ada banyak hal yang dikhawatirkan oleh para siswa dan yang paling sering dikemuka-kan adalah masalah etos kerja termasuk padatnya jam kerja yang harus mereka hadapi di Jepang. Mereka juga mengkhawatirkan bagaimana mereka berkomunikasi dengan para perawat Jepang mengingat posisi mereka adalah sebagai asisten dari orang-orang Jepang.

Hal lain yang menjadi pertanyaan mereka adalah waktu sholat dan makanan halal. Menurut sudut pandang seorang pengajar sepertii, sebaiknya para pengajar diberikan lebih banyak pelatihan agar ia dapat menyampaikan materi ajar yang berkualitas. Sedangkan untuk memotivasi calon pemelajar bahasa Jepang, perlu diberi rangsangan seperti penyelenggaraan acara-acara kompetisi'oun/rasa/ dan bahasa Jepang dengan pemberian penghargaan.
Bagi para pemelajar awal khususnya remaja, penghargaan sederhana pun sangat berarti.

Uniknya Belajar Bahasa Jepang

Bahasa dan budaya Jepang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Sehingga, tidak cukup hanya mencari padanan kata-kata yang ingin diketahui melalui kamus untuk memahaminya. Banyak kata yang tidak ada padanannya sehingga tidak ada jalan lain selain harus memahami bahasa Jepang itu sendiri.

Contohnya, ketika pertama kali saya mengenal kata 'kininaru yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia sehingga cukup sulit untuk menjelaskan arti kata tersebut. Saat itu saya harus menggunakan berbagai situasi agar kata tersebut dapat dipahami oleh orang Indonesia.

Dalam bahasa Jepang juga ada yang disebut sebagai doon igigo - kosakata bahasa Jepang yang memiliki bunyi yang sama dalam aksara hiragana yang sama tetapi memiliki arti bila diberi aksen tertentu.