Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

5 Puisi Terkenal Johann Wolfgang von Goethe dalam Bahasa Jerman dan Terjemahan Indonesia

 

 

1. Wanderers Nachtlied II (Lagu Malam Sang Pengembara II)

Tahun: 1780
Ditulis dengan pensil di dinding pondokan kayu di Gunung Kickelhahn, Ilmenau, puisi ini dianggap sebagai mahakarya miniatur Goethe yang mencapai kesempurnaan formal dan kedalaman filosofis tentang kematian dan kedamaian.

Teks Jerman:
Über allen Gipfeln
Ist Ruh,
In allen Wipfeln
Spürest du
Kaum einen Hauch;
Die Vögelein schweigen im Walde.
Warte nur, balde
Ruhest du auch.

Terjemahan Puitik:
Di atas segala puncak
Ada hening,
Di semua pucuk
Kau rasa
Hampir tiada hembusan;
Burung-burung kecil diam di hutan.
Tunggulah saja, sebentar lagi
Kau pun akan beristirahat.


2. Der Erlkönig (Raja Elf)

Tahun: 1782
Balada supernatural berdasarkan legenda rakyat Denmark tentang "Raja Alder," menampilkan dialog dramatis antara ayah, anak sekarat, dan makhluk gaib. Franz Schubert membuatnya abadi melalui komposisi musiknya.

Cuplikan Terkenal:
Wer reitet so spät durch Nacht und Wind?
Es ist der Vater mit seinem Kind;
Er hat den Knaben wohl in dem Arm,
Er fasst ihn sicher, er hält ihn warm.

"Mein Vater, mein Vater, und siehst du nicht dort
Erlkönigs Töchter am düstern Ort?"
"Mein Sohn, mein Sohn, ich seh es genau:
Es scheinen die alten Weiden so grau."

Terjemahan:
Siapa yang berkuda larut melintasi malam dan angin?
Itulah ayah dengan anaknya;
Dia memeluk anak lelaki itu di lengannya,
Dia eratkan, dia hangatkan.

"Ayah, ayah, takkah kau lihat di sana
Putri-putri Raja Elf di tempat kelam?"
"Anakku, anakku, kulihat jelas:
Itu dedaunan willow tua yang kelabu."


3. Prometheus

Tahun: 1774 (dipublikasi 1785)
Puisi pemberontakan dari periode Sturm und Drang, menggambarkan Prometheus yang menantang dewa-dewa Olimpus. Merupakan manifesto generasi muda Goethe yang menolak otoritas tradisional.

Cuplikan Revolusioner:
Bedecke deinen Himmel, Zeus,
Mit Wolkendunst!
Und übe, dem Knaben gleich,
Der Disteln köpft,
An Eichen dich und Bergeshöhn!

Ich dich ehren? Wofür?
Hast du die Schmerzen gelindert
Je des Beladenen?
Hast du die Tränen gestillt
Je des Geängsteten?

Terjemahan:
Tutupilah langitmu, Zeus,
Dengan kabut awan!
Dan berlatihlah, seperti bocah,
Yang memangkas thistle,
Pada oak dan puncak gunung!

Haruskah aku menghormatimu? Untuk apa?
Pernahkah kau meringankan penderitaan
Si tertindas?
Pernahkah kau keringkan air mata
Si ketakutan?


4. Gefunden (Ditemukan)

Tahun: 1813
Puisi cinta untuk istrinya, Christiane Vulpius, menggunakan metafora bunga di hutan untuk menggambarkan cinta sejati yang sederhana namun mendalam. Mencerminkan kearifan Goethe di usia matang.

Teks Lengkap:
Ich ging im Walde
So für mich hin,
Und nichts zu suchen,
Das war mein Sinn.

Im Schatten sah ich
Ein Blümchen stehn,
Wie Sterne leuchtend,
Wie Äuglein schön.

Ich wollt es brechen,
Da sagt es fein:
"Soll ich zum Welken
Gebrochen sein?"

Ich grub's mit allen
Den Würzlein aus,
Zum Garten trug ich's
Am hübschen Haus.

Und pflanzt es wieder
Am stillen Ort;
Nun zweigt es immer
Und blüht so fort.

Terjemahan Puitik:
Aku berjalan di hutan
Untuk diriku sendiri,
Dan tak mencari apa-apa,
Itulah niatku.

Dalam bayang kulihat
Sebunga kecil berdiri,
Bersinar bagai bintang,
Cantik bagai mata indah.

Kuingin memetiknya,
Lalu katanya halus:
"Haruskah ku layu
Karena dipetik?"

Kugali dengan semua
Akar-akarnya,
Ke taman kubawa
Di rumah cantik.

Dan kutanam kembali
Di tempat yang tenang;
Kini selalu bertunas
Dan terus berbunga.


5. Das Göttliche (Yang Ilahi)

Tahun: 1783
Puisi filosofis yang mengartikulasikan humanisme Goethe—gagasan bahwa manusia menjadi ilahi melalui perbuatan mulia, kemurahan hati, dan pengejaran kebaikan. Merepresentasikan idealisme Klasik Weimar.

Cuplikan Esensial:
Edel sei der Mensch,
Hilfreich und gut!
Denn das allein
Unterscheidet ihn
Von allen Wesen,
Die wir kennen.

Heil den unbekannten
Höhern Wesen,
Die wir ahnen!
Ihnen gleiche der Mensch;
Sein Beispiel lehr uns
Jene glauben.

Terjemahan:
Mulia hendaknya manusia,
Menolong dan baik!
Hanya itulah
Yang membedakannya
Dari semua makhluk
Yang kita kenal.

Salam pada makhluk agung
Yang tak dikenal,
Yang kita rasakan!
Pada merekalah manusia hendaknya menyerupai;
Teladannya ajari kita
Untuk percaya pada mereka.


Karakteristik Puisi Goethe:

  • Universalitas - Menyentuh tema manusiawi yang melampaui zaman

  • Dialog dengan Alam - Alam sebagai cermin kondisi manusia

  • Perpaduan Klasik-Romantis - Bentuk terdisiplin dengan emosi mendalam

  • Musikalitas Bahasa - Banyak puisinya dikomposisi menjadi Lied (lagu seni)

  • Perjalanan Spiritual - Dari pemberontakan muda menuju kearifan dewasa

Goethe sendiri menyatakan tentang proses kreatifnya: "I sing as the bird sings that lives in the boughs; the song that is heard from me is not mine, for I am the vessel of the poem." Puisi-puisinya tetap relevan karena kemampuannya menangkap esensi pengalaman manusia dengan kejernihan dan keindahan yang tak lekang waktu.

Asal Mula Hokkian, Hakka, Konghu (Canton), Tio Ciu dan Bahasanya

Asal Mula Hokkian, Hakka, Konghu (Canton), Tio Ciu dan Bahasanya
JIKA ada yang menyatakan Hokkian, Hakka, dan Konghu adalah suku, itu salah.
Mengapa? Karena, suku bangsa yang terbanyak di Tiongkok adalah orang Han. Orang Han berasal dari kelompok masyarakat yang mendiami bagian tengah Tiongkok yang disebut suku Hua.

Daratan yang terletak di tengah daratan Tionghok disebut Tionghoa. Tiong, berarti tengah. Dan Hua, merupakan sebutan suku terbesar di Tionghok. Jadi, Tionghoa adalah negara yang letaknya di tengah.

Orang Hua menyebar ke seluruh Tiongkok. Mereka di sebut orang Han. Karena sebagian dari wilayah selatan tak begitu antusias menggunakan istilah bangsa Han. Padahal, sebutan Han di sini hanya menunjukkan etnis atau suku.

Pada Dinasti Han, penggunaan sebutan orang Tionghoa disebut Hanren dan bahasanya disebut Hanyu. Setelah Dinasti Han ambruk, istilah Han masih dipakai di seluruh dunia sampai sekarang untuk menyebut orang Tionghok.

Saat Dinasti Tan berkuasa yang wilayahnya sampai Tiongkok selatan, mulailah sebutan Hanren diganti Tangren. Dalam bahasa Mandarin disebut Tenglan. Sedangkan dalam bahasa Hokkian dan Konghu disebut Thong Yan.

Saat itu, Tiongkok cukup luas tanahnya. Negara ini terdiri dari pegunungan dan lalu lintas sangat sulit. Banyak daerah yang terisolir satu sama lain. Inilah yang menjadikan antardaerah berbeda dialeknya. Dari situ, muncullah sebutan dialek Hokkian, Hakka, Konghu (Canton), dan Tio Ciu.

Sekarang jelas, kalau Hokkian, Hakkan, Kongho, Tio Ciu, itu semua merupakan dialek dan bukan suku. orang Tionghoa yang paling banyak datang ke Indonesia adalah orang Hokkian yang menyebar di seluruh tanah air. Bahkan, penduduk Sumatera utara, terutama di Medan dan Pematang Siantar penduduk lokal (pribumi) banyak yang fasih berbahasa Hokkian, selain bahasa Batak.

Ini menunjukkan terjadinya asimilasi yang terjadi turuntemurun tanpa campur tangan politik. Begitu juga di tanah Jawa. Terutama Jawa tengah.

Orang Tionghoa di sini, selain menguasa bahasa ibunya dan bahasa Indonesia, juga pasti bisa berbahasa Jawa. Sebenarnya, penggunaan bahasa tidak usaha dilarang atau perlu diatur pemerintah. Bila dipaksakan, yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Setiap orang berhak melestarikan budaya nenek moyangnya.Contoh, kalau orang Jawa, mereka berhak mendapat fasilitas dari pemerintah untuk melaksanakan semua kebiasaan adat istiadat leluhurnya. Begitu juga dengan orang Tionghoa yang tinggal di sini. WNI Tionghoa yang tinggal di Indonesia sudah bisa disebut pribumi. Mereka juga memiliki hak yang sama. Penggunaaan dialek Hokkian, Konghu, Hakka, Tio Ciu dan lainnya, mereka hanya ingin menggunakan bahasa yang sama. Sehingga memudahkan hubungan antarorang Tionghoa, meksi dialeknya berbeda.

Di Indonesia, ada tokoh konglomerat Hokkian. Yaitu Sudono Salim (Liem Sioe Liong) yang berjasa membuat gandum Bogasari dan Indocement yang penting bagi kehidupan dan pembangunan di Indonesia. Di samping jasanya, pasti ada kekurangan dan dianggap tidak nasionalis. Karena masa tuanya dihabiskan di Singapura yang lebih menjanjikan keamanan dan kenyamanan.

Ada pepatah, Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga.Kesalahan seorang bisa berakibat rusaknya pandangan terhadap kelompok tersebut.
Semoga kerusuhan Mei 1998 tidak terulang lagi di masa mendatang. Amien. (*)

Koh Bing (R. Herianto Kurniawan MBA)
Ketua Bidang Kesenian Perhimpunan Warga Cantonese Yogyakarta/Perwacy

Kisah dari Kedalaman Tanah

Kisah dari Kedalaman Tanah
"Luka yang dia derita akibat dikeroyok warga desa itu sudah sedemikian parahnya. Nyawa raksasa perempuan itu pun akhirnya tak tertolong.

Untuk mengenang peristiwa itu, Prabu Jayabaya memerintahkan dibuatnya patung raksasa setinggi 14 kaki, dengan mata selebar lepek (alas cangkir) dan sikap tubuh seperti gupala (patung raksasa penjaga). Patung itu didirikan di daerah yang akhirnya diberi nama ‘Gumurah’ yang berarti kekacauan."

Kisah di atas diambil dari Babad Kadhiri, sebuah naskah yang ditulis di tahun 1832. Mengisahkan masa pemerintahan Prabu Sri Aji Jayabaya, masa sekitar abad 12 M. Patung itu sendiri baru ditemukan tahun 1981, dalam keadaan terkubur di tanah hingga setinggi dada.
Terkubur segitu tingginya?

Tentu saja. Mari kita bayangkan berapa kali Gunung Kelud menyumbangkan muntahan vulkanik terhitung sejak patung itu dibuat, yakni sekitar abad 12, hingga saat ini. Berapa kali pun itu, yang jelas sanggup mengubur patung setinggi lebih dari tiga meter (belum termasuk undakan pondasinya, jika ada) itu hingga sebatas dada. Cuma butuh sekali letusan lagi untuk membuatnya terbenam sepenuhnya di bawah tanah, hingga siapapun tidak mungkin menemukannya.

Itulah peradaban kita, kawan.
Begitu banyak gunung vulkanik aktif di sekitar kita. Mereka secara rutin menumpahkan semburan lahar ke daerah sekitarnya, menyuburkan tanah sekaligus mengubur peradaban di atasnya.

Apa yang terjadi setelah peradaban terkubur?

Maka yang tersisa akan memulai lagi dari bawah. Kembali ke masa primitif. Merangkak perlahan menjadi makin modern. Lantas bencana skala besar kembali melibas seluruh populasi. Peradaban maju kedua ini pun terkubur di bawah tanah. Yang tersisa melanjutkan hidup dalam keprimitifan kembali, dan begitu seterusnya.

Bencana skala besar yang mampu menghabisi populasi makhluk hidup, dalam bahasa geologinya disebut ‘katastrofi’.

Di tanah kita ini ada dua katastrofi purba yang jadi langganan leluhur kita sejak jutaan tahun lalu. Yakni erupsi gunung vulkanik, gempa tektonik dan tsunami. Trio musibah yang sangat mudah menyapu peradaban tinggi masa lalu hingga bersih tak berbekas.

Maka sungguh tidak bijak jika mengukur peradaban nenek moyang kita hanya dari apa yang saat ini ditemukan di atas tanah. Karena dipastikan sangat banyak bekas peradaban yang masih terkubur di dalam tanah yang saat ini tengah kita pijak.

Itu adalah hal yang tidak terjadi di belahan bumi lain. Karena mereka tidak dikepung gunung berapi serapat kita, atau disambangi tsunami sesering kita.

Jika bangsa Mesir pada 2500 tahun sebelum masehi sudah mampu membangun piramid, lantas apakah saat itu leluhur kita masih merupakan bangsa primitif, hanya karena belum ditemukan situs yang berusia sama?

Sejarah yang selama ini ditulis secara linier, memang berkata seperti itu. Bangsa Nusantara dinyatakan baru punya peradaban sejak 4 abad sebelum masehi.
Andaikan mata kita mampu menembus kedalaman tanah, pastilah jawabannya lain. Atau yang masih bisa di temukan di atas bukit, mungkin?

Hasil uji lab atas bebatuan di situs Gunung padang di Cianjur Jawa Barat yang dilansir oleh Beta Lab Florida AS menunjukkan angka yang mencengangkan.Bahwa lapisan teras kedua punden purba itu berusia di atas 10.000 tahun. Takjub? Nanti dulu.

Lantas di beberapa lapisan berikutnya ditemukan strutur pasir yang diayak dengan baik, yang diperkirakan berfungsi sebagai konstruksi penahan gempa. Di situs itu juga ditemukan material logam yang menunjukkan leluhur kita masa itu telah memiliki teknologi metalurgi dengan cukup baik.

Itu baru yang ditemukan di atas bukit, saudara.

Bagaimana dengan yang masih di bawah tanah?





Malang, 19 Mei 2014
(terinspirasi dari obrolan bersama salah satu geolog terbaik dunia yang dimiliki Indonesia, DR.Ir. Andang Bachtiar, MSc )

Ditulis Aji Prasetyo